Selalu ada kesulitan dalam setiap kesempatan, dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan.
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S. al-Insyirah : 6)

Tuesday, June 11, 2013

Fitrah Manusia Dalam Perspektif Pendidikan


Fitrah Manusia Dalam Perspektif Pendidikan


Manusia adalah ciptaan Allah yang sempurna, berbeda dengan makhluk ciptaan Allah yang lainnya, sejak lahir manusia telah dibekali oleh Allah SWT dengan berbagai potensi, baik potensi jasmani, rohani dan lainnya, disamping itu Allah juga membekali manusia dengan kemampuan berpikir supaya dapat mengembangkan segala potensi yang telah di anugerahkan oleh Allah dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, persoalan tentang manusia akan tetap menarik untuk diteliti dan dikaji oleh umat manusia sepanjang zaman.

Suatu hal yang harus diketahui untuk mengetahui esensi dan eksistensi kehidupan manusia adalah fitrah. Fitrah mempunyai peran tersendiri memiliki kesan yang sangat vital untuk dijadikan dasar mengenal manusia, karena salah satu tatanan nilai yang ada pada diri manusia, bersifat orisinal, alamiah, dan hadir bersama hadirnya jasmaniah dan rohaniah diri manusia itu sendiri.

Pengenalan terhadap fitrah manusia diawali dengan mengetahui konsep kelahiran manusia dari unsur lahiriah maupun unsur batiniah. Unsur batiniah yang memiliki perangkat kemampuan dasar inilah yang disebut fitrah,yang dalam bahasa psikologi disebut personalitas atau disposisi, atau dalam psikologi behaviorisme disebut propotence reflexes, yaitu kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berkembang. [1]

Sementara itu dalam tinjauan normatif, fitrah dapat dilihat dalam Al-Qur’an surat Ar-Ruum ayat 30, sebagai berikut:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ( الروم : ٣٠ )

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S Ar-Rum : 30 )[2]

Allah telah menciptakan semua makhluknya berdasarkan fitrahnya. Surat Al Ruum ayat 30, telah menginspirasikan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan fitrah atau potensi itu dengan baik dan lurus. Fitrah Allah untuk manusia, berupa potensi dan kreativitas yang dapat dibangun dan membangun, yang memiliki kemungkinan berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya jauh melampaui kemampuan fisiknya Maka diperlukan suatu usaha-usaha yang baik yaitu pendidikan yang dapat memelihara dan mengembangkan fitrah serta pendidikan yang dapat membersihkan jiwa manusia dari syirik, kesesatan dan kegelapan menuju ke arah hidup bahagia yang penuh optimis dan dinamis.[3]

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwasanya antara manusia, fitrah dan pendidikan memiliki hubungan yang sangat signifikan. Sebab manusia yang baru dilahirkan adalah dalam keadaan lemah, tidak berdaya, tidak dapat mengurus dirinya sendiri tanpa ada bantuan dan bimbingan orang lain yang kita kenal dengan istilah pendidikan.
Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Murtadho Mutohhari, bahwa secara khusus fitrah mempunyai hubungan kekerabatan dengan pendidikan. Sebab fitrah terdapat dalam diri manusia, yang oleh Ahmadi dikatakan fitrah itu masih merupakan pola dasar atau sifat-sifat asli, maka fitrah itu baru memiliki arti bagi kehidupan manusia setelah dikembangkan secara wajar dan optimal.


Manusia secara hakikatnya yang ditinjau dari kualitas dan kuantitas dalam pandangan pendidikan islam merupakan satu kesatuan yang utuh, antara aspek fisik/jasmani, dan psikis/rohani yang dibekali oleh Allah dengan berbagai potensi yang harus dibina dan dikembangkan dalam kehidupannya. Unsur tersebut telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna dan memiliki tingkat kecerdasan tinggi

Sementara dari segi fungsi dan kedudukan manusia adalah makhluk fungsional yang mempunyai tanggung jawab dalam hidupnya. Manusia sebagai makhluk berpribadi, mempunyai fungsi terhadap diri pribadinya. Manusia sebagai anggota masyarakat mempunyai fungsi terhadap masyarakat. Manusia sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah alam, berfungsi terhadap alam. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh, berfungsi terhadap yang menciptakan dan yang mengasuhnya, yang mana semua fungsi dan tugas yang dijalankan manusia akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Dengan kelengkapan dua aspek jasmani dan rohani serta potensi  yang diberikan Allah sebagai fitrah manusia, manusia dapat melaksanakan tugas-tugasnya. Dan di sini manusia memerlukan bimbingan,binaan dan pendidikan yang seimbang, harmonis dan integral, agar kedua aspek tersebut dapat berfungsi dengan baik dan produktif.

Fitrah pada hakikatnya merupakan keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia berupa kemampuan dasar dan potensi yang dapat dikembangkan olehmanusia yang di dalamnya terkandung berbagai komponen biologis dan psikologis yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menyempurnakan bagi hidup manusia.

Potensi tersebut bersifat kompleks yang terdiri atas : ruh (roh), qalb (hati), ‘aql (akal), dan nafs (jiwa). Potensi-potensi tersebut bersifat rohaniah atau mental - psikis. Selain itu manusia juga dibekali potensi fisik - sensual berupa seperangkat alat indera yang berfungsi sebagai instrumen untuk memahami alam luar dan berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya. Dengan demikian fitrah merupakan konsep dasar manusia yang ikut berperan dalam membentuk perkembangan manusia di samping lingkungan (pendidikan).

Fitrah yang bersifat potensial tersebut harus dikembangkan secara faktual dan aktual. Untuk melakukan upaya tersebut, Islam memberikan prinsip-prinsip dasarnya berupa nilai-nilai Islami sehingga pertumbuhan potensi manusia terbimbing dan terarah. Dalam proses inilah faktor pendidikan sangat besar peranannya bahkan menentukan bentuk corak kepribadian seseorang. Nampaknya itulah yang menjadikan Nabi Muhammad mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu.

Islam telah menempatkan pendidikan sebagai sebuah proses pembentukan dan pengembangan potensi manusia seutuhnya. Untuk dapat mengembangkan potensi manusia secara maksimal pendidikan Islam hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan kebudayaan manusia serta penanaman nilai-nilai fundamental sebagai dasar pembentukan kepribadian manusia. pendidikan Islam harus mampu mengintegrasikan seluruh potensi yang dimiliki peserta didiknya pada pola pendidikan yang ditawarkan, baik potensi yang ada pada aspek jasmani maupun rohani, intelektual, emosional, serta moral etis religius dalam diri peserta didiknya.

Dengan ini, pendidikan Islam akan mampu membantu peserta didiknya untuk mewujudkan sosok insan paripurna yang mampu melakukan dialektika aktif pada semua potensi yang dimiliknya. Mampu teraktualisasikannya potensi yang dimiliki manusia sesuai dengan nilai-nilai Ilahiyah, pada dasarnya pendidikan berfungsi sebagai media yang menstimulasi bagi perkembangan dan pertumbuhan potensi manusia seoptimal mungkin ke arah penyempurnaan dirinya, baik sebagai ‘abdillah maupun khalifah.




[1] Chalidjah Hasan, Dimensi-DimensiPsikologi Islam, (Surabaya : al Ikhlas, 1994) hal 35.
[2] Al-Qur’anul Karim. Chm version 1.1
[3] Maimunah Hasan, Membangun Kreativitas Anak Secara Islami )Yogyakarta : Bintang Cemerlang, 2002( hal. 9